Kala Semesta Menitipkan Nama dalam Doa


04 Agu 2025/ambar arum putri hapsari/Informasi/99 View

Ada seseorang yang hadir begitu tiba-tiba, namun meninggalkan bekas yang tak juga reda oleh waktu? Ia datang tak dijemput, pergi pun tak bisa dicegah. Seakan hanya dititipkan semesta untuk sebentar, agar engkau belajar tentang satu hal, bahwa tidak semua yang kita jaga, akan tinggal selamanya.

Di dunia yang tak pernah tidur ini, langkah-langkah saling bersilangan. Ada yang menyapa lalu hilang, ada yang memeluk lalu melepaskan. Maka ketika satu nama datang menepi di hidupmu, jangan anggap remeh pertemuannya. Barangkali, itu adalah jawaban dari doa yang tak sadar pernah kau panjatkan di malam yang sunyi.

Ia Datang, Saat Hatimu Telah Lelah Menunggu

Tidak semua cinta diawali oleh tawa yang riang. Terkadang, ia datang justru saat hatimu sedang runtuh. Ketika tak lagi berharap apa-apa, lalu seseorang hadir dan menepuk punggungmu pelan. Ia tak berkata banyak, tapi hangatnya cukup untuk membuatmu percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kejam.

Kau tertawa lagi, walau dengan hati-hati. Kau mulai menyimpan harap, walau belum berani menyebutnya cinta. Namun sebagaimana kebanyakan kisah yang indah tapi singkat, waktu pun mulai mencipta jeda.

Tiba-tiba ia menjauh, dan engkau hanya bisa diam. Mencoba tegar di hadapan banyak mata, menyimpan rindu yang tak sempat tumbuh utuh.

Ada yang Hanya Dititipkan, Bukan untuk Dimiliki

Barangkali Tuhan memang menuliskan ia hadir bukan sebagai milik. Mungkin ia dikirim hanya untuk singgah, agar engkau tahu rasanya diperhatikan. Agar engkau tahu, betapa selama ini engkau pun layak dicintai, meski sebentar.

Dan dari situ, engkau mulai belajar menerima. Bahwa perasaan yang tulus tak selalu harus berujung bersatu. Bahwa tidak semua orang yang membuatmu nyaman akan menetap selamanya.

Ada yang memang tugasnya hanya mengobati, lalu pergi. Dan tak apa-apa.

Menitipkan Namanya dalam Diam

Kini, meski langkahmu kembali sendiri, engkau tetap membawa namanya dalam doa. Bukan karena ingin memilikinya kembali, tetapi karena kau menghargai kehadirannya yang pernah menjadi pelita di hari tergelapmu.

Dan biarlah begitu, biarlah ia tetap tinggal dalam kenangan paling tenang, sebab yang singgah pun punya tempat di hati, walau tak pernah menjadi milik.

Sebab pada akhirnya, bukan soal berapa lama ia tinggal, tapi seberapa dalam ia mengguratkan makna dalam hidupmu.