Mengapa Investor Asing Melepas Saham BBCA Meskipun Fundamental Kuat?


09 Sep 2025/wizdan ulum/Informasi/5424 View

Pada awal September 2025, saham BBCA menjadi yang paling banyak dijual oleh investor asing. Dalam periode 1–4 September, net foreign sell mencapai Rp 3,17 triliun, menyebabkan harga BBCA terkoreksi hingga 3 %. Bahkan kurang dari seminggu, net sell asing di saham BBCA menembus Rp 4,29 triliun, dan secara mingguan terkumpul hingga Rp 5,3 triliun, sementara sepanjang tahun berjalan (YTD) net sell asing sudah mencapai lebih dari Rp 55 triliun.

Data Bursa Efek Indonesia mencatat net foreign sell terbesar terjadi pada sesi perdagangan tanggal 3 September 2025, yaitu sebanyak 65 juta saham BBCA, menjadikannya saham jumbo-bank yang paling terkena aksi jual asing. Nilai net foreign sell dalam satu hari bahkan mencapai Rp 939,7 miliar.

 

Sentimen dan Faktor Eksternal

Meskipun BBCA memiliki fundamental sangat solid, termasuk laba bersih yang tumbuh 8–10 %, dominasi dana murah (CASA tinggi), dan manajemen risiko yang baik, para analis menyebut arus jual asing lebih dipicu oleh lingkungan global yang penuh ketidakpastian dan faktor domestik yang mengganggu rasa aman investor asing.

Kebijakan fiskal yang tidak pasti, perombakan kabinet, dan ketidakpastian atas arah ekonomi sering membuat investor asing ragu dan memilih meredam risiko dengan menarik dana . Faktor eksternal lain seperti kebijakan suku bunga tinggi The Fed juga mendorong aliran modal ke aset safe-haven seperti obligasi AS.

Selain itu, terjadi rotasi portofolio: asing cenderung keluar dari saham premium seperti BBCA untuk kemudian masuk kembali ketika harga lebih rendah dan valuasi lebih menarik.

 

Tekanan Valuasi dan Dividen

Saham BBCA secara historis diperdagangkan dengan PBV di atas 4×, tetapi saat ini relatif rendah sekitar 3,6–3,8×, yang bisa dipandang sebagai peluang beli. Namun, bagi sebagian investor asing, valuasi yang semula tinggi dan dividen yang “cukup” tidak selalu cukup menarik di tengah pergeseran strategi investasi jangka pendek.

 

Meskipun BBCA memiliki fundamental unggul, termasuk pertumbuhan laba positif, likuiditas dan permodalan baik, serta dominasi CASA, arus jual asing lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan psikologis pasar global. Investor asing bertindak bereaksi terhadap ketidakpastian makro dan regulasi, bukan kualitas perusahaan semata. Dengan demikian, penjualan besar tersebut bukan refleksi buruknya kinerja BBCA, melainkan refleksi dari strategi pengelolaan risiko dan ekspektasi global.

Pejabat keuangan, analis, dan investor lokal bisa mengambil pelajaran bahwa terdapat peluang akumulasi jangka panjang ketika sentimen eksternal melemah, khususnya bila fundamental tetap terjaga. Arus keluar ini bisa dilihat sebagai peluang strategis bagi investor yang memiliki horizon jangka panjang untuk masuk di harga diskon.