Menteri Kehutanan Main Domino!!? Jadi Sorotan Publik


08 Sep 2025/wizdan ulum/Informasi/728 View

Menteri Kehutanan main domino menjadi topik hangat di publik setelah foto Raja Juli Antoni tampak bermain bersama sosok yang pernah terkait pembalakan liar. Raja Juli Antoni, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Kehutanan, terlihat dalam foto sedang bermain domino bersama Menteri PPMI Abdul Kadir Karding dan beberapa pihak lain di posko Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Foto ini mendadak viral dan memicu reaksi cepat dari berbagai lapisan masyarakat.

 

Klarifikasi Menteri Kehutanan

Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pertemuan tersebut awalnya hanya pertemuan biasa dengan Karding di posko KKSS. Mereka berbincang selama sekitar dua jam tanpa membahas kasus hukum apa pun. Di penghujung malam, mereka diajak bermain domino oleh beberapa pengurus. Setelah dua “putaran”, Raja Juli menyatakan ia langsung berpamitan untuk pulang.

Raja Juli juga menegaskan bahwa ia tidak mengetahui bahwa salah satu lawan bermainnya adalah Aziz Wellang, yang pernah terjerat kasus pembalakan liar. Setelah berita viral, barulah ia menyadari dan menyatakan komitmennya menindak tegas pelanggaran hukum, termasuk pembalakan liar tanpa pandang bulu.

 

Penjelasan dari Menteri Karding

Sementara itu, Menteri PPMI Abdul Kadir Karding membenarkan bahwa bermain domino di KKSS merupakan bagian dari budaya lokal yang rutin dilakukan saat pertemuan pengurus. Ia pun menegaskan bahwa diskusi serius antara dirinya dan Raja Juli berlangsung terpisah, di area belakang posko, dan berakhir pada sekitar pukul 23.30 WIB.

Karding juga mengklarifikasi bahwa status hukum Aziz Wellang telah berubah—berdasarkan putusan pengadilan dan surat resmi dari Gakkum KLHK, statusnya telah dicabut sebagai tersangka melalui SP3 pada Februari 2025.

 

Kritik dari MAKI

MAKI atau Masyarakat Anti Korupsi Indonesia, melalui Boyamin Saiman, mengecam tindakan Raja Juli Antoni karena dianggap tidak etis bertemu dan bermain dengan sosok yang pernah bermasalah hukum. Mereka mendesak Menteri Kehutanan untuk memerintahkan penyidik membuka kembali penyidikan terhadap kasus pembalakan tersebut.

MAKI menilai bahwa pertemuan seperti itu bisa melemahkan moral penyidik di kementerian, meskipun praperadilan telah berujung pada gugurnya status tersangka terhadap Aziz Wellang. Mereka menekankan bahwa praperadilan hanya menyangkut aspek formil, bukan substansi hukum.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, muncul beberapa kesimpulan penting:

  • Pertemuan tidak terkait kasus hukum
    Diskusi Raja Juli dan Karding sepenuhnya bersifat sosial dan tidak membahas kasus pembalakan.
     
  • Kejadian spontan dan bagian budaya lokal
    Bermain domino di lingkungan KKSS adalah hal wajar dan sering dilakukan saat berkumpul.
     
  • Perubahan status hukum Aziz Wellang
    SP3 menandakan bahwa secara hukum, statusnya telah dibersihkan, sehingga secara formal ia bukan tersangka lagi.
     
  • Etika dan persepsi publik tetap menjadi isu
    Meski legal formal terpenuhi, interaksi seperti ini tetap menimbulkan pertanyaan etis dari masyarakat dan organisasi seperti MAKI.
     
  • Komitmen terhadap penegakan hukum ditegaskan kembali
    Raja Juli menegaskan bahwa tidak ada kompromi terhadap pelanggaran hukum di kawasan hutan.
     

Beberapa poin penting yang layak dicatat:

  • Foto domino memicu wacana penting tentang netralitas pejabat publik
     
  • Budaya lokal dan budaya politik kadang berbenturan
     
  • Prosedur hukum formal tidak selalu memadamkan kontroversi moral
     
  • Reaksi publik dan lembaga pengawas tetap penting dalam mengawasi integritas pejabat

     

Dari berbagai penjelasan dan fakta, dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus Menteri Kehutanan main domino bersama Raja Juli Antoni merupakan peristiwa sosial biasa yang kemudian menjadi sorotan karena persepsi publik. Walaupun secara hukum tidak ada pelanggaran dan Aziz Wellang sudah tidak berstatus tersangka, isu etika tetap muncul karena publik menuntut standar integritas tinggi dari pejabat negara. Klarifikasi yang disampaikan Raja Juli Antoni serta Abdul Kadir Karding menegaskan bahwa tidak ada agenda tersembunyi, namun kasus ini menunjukkan bahwa setiap tindakan pejabat publik akan selalu mendapat sorotan, sehingga kepekaan terhadap etika dan persepsi masyarakat harus lebih diperhatikan di masa depan.