Rupiah Menguat Terpengaruh Arah Suku Bunga The Fed dan Sentimen Pasar


28 Jan 2026/wizdan ulum/berita/657 View

Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan di Jakarta setelah sentimen global yang menunjukkan kemungkinan arah kebijakan suku bunga The Fed menuju pelonggaran. Penguatan ini tercatat meningkat sekitar 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.732 per dolar AS dari penutupan sebelumnya.

 

Pengaruh Kebijakan The Fed terhadap Rupiah

Para pelaku pasar saat ini mencermati rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan namun menunjukkan arah ke kebijakan yang lebih longgar. Ekspektasi ini telah membuat indeks dolar AS melemah, yang selanjutnya turut mendorong mata uang negara berkembang termasuk rupiah menguat.

 

Arah Kebijakan Moneter Global dan Reaksi Pasar

Walaupun The Fed kemungkinan tidak mengubah suku bunga pada pertemuan terbaru, pasar memandang bahwa kebijakan moneter akan tetap longgar ke depan. Hal ini menciptakan sentimen positif bagi mata uang emerging market seperti rupiah. Melemahnya indeks dolar AS ikut menyebabkan aksi pelepasan dolar oleh investor.

 

Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia (BI) tetap aktif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengintervensi pasar valas dan mempertahankan kebijakan moneter yang mendukung stabilitas ekonomi domestik. Gubernur BI menyatakan optimisme bahwa rupiah dapat menguat secara fundamental, didukung oleh inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi domestik yang membaik.

 

Faktor Domestik yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Selain faktor global, kondisi domestik seperti stabilitas inflasi dan kebijakan BI juga menjadi pendorong bagi penguatan rupiah. Penurunan BI-Rate beberapa kali sejak September 2024 juga memberikan ruang bagi perbaikan ekonomi, sekaligus membantu stabilisasi nilai tukar.

 

Dampak terhadap Pasar dan Pelaku Ekonomi

Penguatan rupiah umumnya memberikan dampak positif bagi biaya impor barang dan tekanan harga barang asing, serta dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik. Namun, dinamika kurs masih dipengaruhi oleh sentimen global yang cepat berubah, terutama terkait keputusan suku bunga di Amerika Serikat.

 

BACA JUGA: Kebakaran Hebat Melanda Pabrik Sandal Swallow di Medan

 

Sentimen global mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed yang diperkirakan tetap longgar, ditambah komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, telah mendorong rupiah menguat terhadap dolar AS. Pergerakan ini bukan hanya refleksi dari ekspektasi moneter global, tetapi juga menunjukkan respons positif pasar terhadap kebijakan domestik yang mendukung kestabilan ekonomi.