Tiada Lagi Raga, Namun Namamu Tak Luruh dari Kalbu

Selembar Kenangan di Bawah Cahaya Pelita
Telah sekian musim berlalu sejak bayangmu terakhir singgah di pelupuk mataku. Namun entah mengapa, namamu tak jua lekang dari sanubariku. Laksana wangi melati yang tetap tinggal di udara, kendati kelopaknya telah gugur berserak.
Aku duduk seorang diri, di beranda kayu yang telah renta, diiringi nyanyian jangkrik malam dan desir angin lembut menyusuri tirai jendela. Di hadapanku, secarik kertas tua, pena bulu dan tinta yang telah mengering menanti kisah tentangmu kembali mengalir.
Dan begitulah, kukisahkan engkau dalam rangkaian aksara, sebab hanya lewat tulisanlah aku dapat memelukmu kembali, meski tanpa wujud, meski sekadar bayang semu dalam ingatan purba.
Kata-kata yang Menghidupkan Yang Telah Tiada
Ragamu telah menjauh, mungkin juga telah menyatu dengan bumi yang hening. Namun jiwamu, ah, jiwamu, masih menari dalam tiap bait yang kutulis. Kau telah sirna dari kehidupan yang nyata, tetapi tidak dari semestaku yang sunyi.
Saban malam, aku menulis tentangmu, bukan untuk berharap kembalimu, aku bukan anak kecil yang percaya dongeng. Tetapi untuk mengabadikanmu, agar dunia tak sepenuhnya lupa bahwa engkau pernah ada. Pernah hidup, pernah tertawa, dan pernah membuat jantungku berdetak lebih kencang hanya karena satu senyummu.
Setiap aksara yang kutorehkan adalah sebentuk altar kecil, tempat kurawat kenangan tentangmu agar tak mati dibakar waktu.
Cinta yang Berubah Wujud, Tapi Tak Pernah Habis
Cintaku padamu kini tak bersandar pada temu, tak bersyarat pada hadir. Ia telah matang, seperti anggur yang disimpan di guci tua. Ia tak minta dibalas, pun tak berharap dimengerti. Ia sekadar ada, dan tetap tinggal, meski tanpa tempat berpulang.
Dan meskipun kita kini berada di dua tepi dunia yang berbeda, kau di sana, entah di mana, dan aku di sini, aku tahu, kita masih sejiwa dalam sunyi.
Akhir yang Tak Benar-benar Usai
Barangkali waktu telah menghapus jejak kakimu dari tanah, barangkali dunia telah menutup kisahmu dengan debu lupa. Tapi tidak untukku.
Selama napas ini masih menyala walau lemah, selama pena ini masih sanggup menari walau goyah, namamu akan tetap kupahat dalam setiap lembar kisah.
Kau mungkin telah tiada. Tapi cintaku tak mengenal nisan.
Namamu abadi, bukan di batu, melainkan di antara bait-bait bisu yang kubisikkan dalam diam.
Recent Posts
Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Kuliah... 24.03.2026/10 View
Cara Mengatur Waktu Saat Menjalani Perkuliahan... 23.03.2026/15 View
Cara Mendapatkan Beasiswa untuk Program Double... 22.03.2026/23 View
Bagaimana Prospek Karier untuk Mahasiswa Lulusan... 21.03.2026/29 View
